BI: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Sudah Jauh Dari Fundamentalnya

BI: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Sudah Jauh Dari Fundamentalnya
BI: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Sudah Jauh Dari Fundamentalnya. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi saat ini, sudah jauh dari fundamentalnya. Hal tersebut dikatakan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Karena, kata dia, jika dilihat berdasarkan fundamental ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah tidak seharusnya melemah hingga mencapai Rp14.900.
Mengutip Reuters, Selasa 4 September 2018 pukul 20.06, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.974 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Selasa, 4 September 2018, rupiah per dolar AS dibanderol Rp14.840.
“Betul apa yang disampaikan Pak Darmin dan Bu Menteri Keuangan, kalau hitung-hitungan fundamentalnya seharusnya tidak seperti ini. Tidak selemah seperti ini,” kata dia saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa 4 September 2018.
Menurut Perry  pelemahan tersebut masih banyak dipengaruhi oleh sentimen negatif, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Dari luar negeri, sentimen negatif disebabkan lantaran kondisi ekonomi negara-negara emerging market, termasuk Indonesia, diserupakan dengan kondisi ekonomi Argentina maupun Turki. Sementara dari sisi domestik disebabkan lantaran pembelian valas yang masih besar oleh korporasi untuk impor.
“Investor global kemarin sudah masuk kan, lelangnya SBN (Surat Berharga Negara) terakhir lebih dari 4 kali lipat kan. SBN sudah mulai masuk, saham juga sudah mulai masuk. Tapi, begitu mulai gonjang-gonjing dengan Argentina sama Turki, keluar lagi. Ini sebagai salah satu contoh sentimen technical di pasar,” katanya.
Untuk itu, kata Perry, demi menanggulangi sentimen tersebut, khususnya dari sisi domestik, pelaku usaha diharapkan tidak perlu melakukan pembelian valas atau valuta asing terlalu banyak sebelum sangat dibutuhkan. Karena menurutnya, hal itu sangat mempengaruhi sentimen pasar.
“Dari dalam negeri, kami menyampaikan kepada importir atau korporasi yang butuh dollar AS, tidak perlu nubruk-nubruk. Kami kan sudah sediakan swap. Itu untuk yang kebutuhannya belum segera, bisa untuk kebutuhan yang akan datang. Ada persepsi belum waktunya sudah beli, itu yang harus ditangani,” tuturnya.
Meski demikian, Perry, memastikan Bank Indoneaia terus berkomitmen menstabilkan nilai tukar rupiah. Hal itu ditandai dengan intervensi ganda yang terus dilakukan, di samping menyesuaikan tingkat suku bunga acuan BI-7 day reverse repo rate yang telah naik 125 basis poin atau telah sebesar 5,5 persen.
“Kami juga meningkatkan intensitas intervensi kami, baik di pasar valas maupun pembelian SBN di pasar sekunder sejak minggu lalu. Intensitasnya semakin tinggi, jumlahnya ditingkatkan dari hari Kamis. Kami intervensi dalam jumlah yang besar di pasar valas,” tutur Perry.

Comments

Popular posts from this blog

Rupiah Hampir Tembus Rp15 Ribu, Industri Ini Mengaku Sangat Kesulitan

AMKI: Koperasi Tidak Pernah Dioptimalkan, Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Lemah

Harga Emas Global Dekati Level Terendah, Permintaan Dolar AS Meningkat